Minggu, 01 November 2009

Catatan Kecil Sang Pencela


Beberapa saat lalu aku membuka catatan lamaku. Sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Aku membaca catatan kecil yang ditulis temanku untukku pada waktu itu. Cukup menarik bagiku... Karena sampai saat ini aku belum pernah benar-benar mengerti apa yang Sang Pencela inginkan dari aku yang membacanya... (peace... ^^v)


>>
Seberapa tinggi ego seseorang dapat dijunjung?
Seberapa dalam egonya dapat menancap dalam hati manusia yang rapuh?
Manusia yang satu ini hanya tersusun atas ego yang tak kunjung reda!
Bertolak atas seseorang dewi yang dapat meluapkan segala rasa dan asa pada buli-bulir ini
Terpendam dalam-dalam, dan mungkin hanya sisa-sisa kebodohan & ketidakpastian dari egonya...

>>
Kegilaan ada bagi dari pencela ini
Bermula dan berakhir disana
Walau tersisihnya nurani itu, hanya kegilaan itu yang mengukir senyum pada sang pencela...

>>
Pernah kukatakan padamu bahwa ego manusia ada suatu yang rapuh layaknya nurani
Saat pencela yang diragukan kemanusiannya kehilangan egonya
yang mungkin tampak padamu hanya makhluk bodoh tak bernurani
Bahkan dirinya sendiri merasa jijik pada adanya..

>>
Seberapa berarti kata-kata mereka dibanding kata-kataku?
Mungkin hal itu hanya suatu perbandingan yang bodoh!
Aku, pencela yang hidup dalam luka mereka
Selalu bergoreskan hal-hal ini
Takdirku adalah sumber air mata bagi mereka
Dan kali ini satu hati kembali tergores, tak ada yang mampu kulakukan
lebih dari itu,
mungkin jalan kebenaranku benar-benar jauh berdalih dari hati nurani manusia
Tak dapat dinalar, dimengerti atau dipahami..
Yang terbaik?
Pengunduran diri Sang Pencela berbayang culas agar tak ada luka lagi bagi mereka..


_sangPencela_


Tidak ada komentar:

Posting Komentar